• Tentang STB
    • Akademik
    • Visi dan Misi
    • Contact Us
  • Prodi S1
  • Unit
    • Struktur Tata Pamong STB HKBP
    • Ketua STB-HKBP
    • Wakil Ketua I
    • Wakil Ketua II
    • Wakil Ketua III
    • Kemitraan
    • Unit Penjaminan Mutu
    • UPPM
    • Laboratorium
    • Perpustakaan
  • Kepegawaian
    • Dosen
    • Tendik
  • Download
    • Formulir Penelitian
    • Formulir PKM
    • Formulir Pendaftaran SPMB TA 2025/2026
SEKOLAH TINGGI BIBELVROUW HKBP
  • Tentang STB
    • Akademik
    • Visi dan Misi
    • Contact Us
  • Prodi S1
  • Unit
    • Struktur Tata Pamong STB HKBP
    • Ketua STB-HKBP
    • Wakil Ketua I
    • Wakil Ketua II
    • Wakil Ketua III
    • Kemitraan
    • Unit Penjaminan Mutu
    • UPPM
    • Laboratorium
    • Perpustakaan
  • Kepegawaian
    • Dosen
    • Tendik
  • Download
    • Formulir Penelitian
    • Formulir PKM
    • Formulir Pendaftaran SPMB TA 2025/2026

Renungan

  • Home
  • Renungan
  • Renungan Pagi (Senin, 23 Februari 2026)

Renungan Pagi (Senin, 23 Februari 2026)

  • Date February 23, 2026

IBADAH PAGI STB HKBP SENIN, 23 FEB. 2026

  1. Nyanyian KJ: 18: 1-2
  2. Nyanyian KJ: 402: 1
  3. Nyanyian KJ: 376: 1-2

Bacaan Pagi : Pslm/Mazmur 97: 1-12.

Khotbah/Renungan : Yesaya 40: 31.

 

Tema: Kekuatan baru dalam Pengharapan kepada Tuhan

(New Strength in Hope in the Lord)”

 “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yes. 40:31)

“But those who hope in the LORD, will renew their strength.They will soar on wings like eagles;
they will run and not grow weary, they will walk and not be faint.”

PENJELASAN:

Kitab Yesaya dibagi ke dalam tiga bagian besar:

  • Yesaya 1-39 (Proto Yesaya) abab 8, Masa Kerajaan Yehuda mengalami ancaman dari Kerajaan Assyur.
  • Yesaya 40-55 (Deutro Yesaya.) abad 6, masa pembuangan di Babilonia.
  • Yesaya 56-66 ( Trito Yesaya) abab 5, masa setelah Umat Israel kembali dari Pembuangan  Babel ke Yerusalem.

Nast ini adalah fasal awal dari Deutro Yesaya yang ditujukan kepada umat Israel yang mengalami krisis eksistensial, yaitu: kehilangan tanah (kampung halaman), bait Allah, terjadi krisis iman, identitas nasional, dan harapan teologis, dimana pada saat itu mereka sudah berada dalam pembuangan di Babelonia.

Dalam keadaan seperti ini di negri orang-di Pembuangan Babel seperti hidup tanpa harapan, terjepit oleh berbagai ancaman dan penderitaan, tanpa pertolongan dari siapa pun. Mereka sebelumnya mungkin tidak menyangka bahwa mereka sebagai umat pilihan Allah tidak akan mengalami penderitaan sepahit itu, dan harus terbuang ke negri kafir, negri yang tidak mengenal Allah. Sampai-samapi Bangsa Israel merasa bahwa Allah tidak melihat penderitaan mereka, bahwa Allah tidak perduli, dan tidak bertindak untuk keselamatan mereka. Mereka tidak habis pikir mengapa umat pilihan Tuhan harus mengalami penderitaan berat seperti itu.

Dalam situasi terjepit karena penderitaan yang multi dimensi  dan sangat kompleks ini, Yesaya 40: muncul sebagai pesan penghiburan pastoral bagi bangsa yang hancur secara politik dan spiritual yang dimulai di ay. 1 “hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku……”. Dan dilanjutkan dengan ayat renungan hari ini (ay. 31), “ tetapi mereka yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru/ hidupnya diperbaharui…………, dan ini adalah jawaban atas keluhan umat yang tertulis di ay. 27, yang menurut mereka bahwa Tuhan tidak memperdulikan mereka.

Bapak, Ibu, dan saudari yang dikasihi Tuhan!

Realita kehidupan kampus pada umumnya tidak bisa dilepaskan dari tekanan yang kompleks. Mahasiswa bergumul dengan:

  • Tugas-tugas yang menumpuk
  • Penulisan skripsi
  • Kecemasan masa depan
  • Tuntutan prestasi
  • Tekanan finansial
  • Krisis identitas
  • Bahkan rasa takut gagal sebelum mencoba

Demikian dosen juga menghadapi:

Beban tridarma, yaitu: Pengajaran (RPS, SAP/Materi kuliah Penelitian dan pengabdian kepada masyarak; tuntutan publikasi Ilmiah, tekanan administratif; ekspektasi institusi, dan lain sebagainnya.

Kampus yang seharusnya menjadi ruang pembentukan intelektual sering kali berubah menjadi ruang kelelahan mental, emosional, bahkan spiritual. Banyak yang terlihat seperi baik-baik saja secara akademik, tetapi sesungguhnya sedang kehilangan kekuatan di dalam. (kesingnya bagus, cantik, tetapi di dalam sudah rapuh).

Bapak dan Ibu, saudari yang dikasihi Tuhan!

Dalam keadaan hidup yang seperti ini yang kita alami sebagai mahasiswa, sebagai dosen dan tendik, kita tidak putus asa, menyerah (give up), pulang kampung tinggalkan STB, tetapi ada sikap menanti-nantikan Tuhan dalam ketekunan, kesetiaan serta berharap Tuhan akan menolong, dan memampukan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan dan beban yang berat itu.

Kata menanti-nantikan bukan hanya duduk menghayal, tidur, bercerita dengan teman menghabiskan waktu. Menanti-nantikan Tuhan adalah sebuah sikap aktif, bukan pasif. Mahasiswa harus belajar tekun, bekerja tekun, tidak malas atau banyak alasan untuk menghindar. Begitu juga bapak ibu dosen dan Tendik.

Bagi orang yang percaya dengan tulus setia kepada Tuhan, dikatakan ”mereka seumpama Rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya. Metapora ini sangat menarik. Rajawali tidak menghindari badai, ia jurtru menggunakan arus angin badai untuk terbang lebih tinggi. Sering kali  kita berdoa sama Tuhan meminta “ Tuhan angkatlah bebanku, masalahku ini, jauhkanlah badai dari kehidupanku ” Tetapi Tuhan menjawab “Aku akan mengangkat perpektifmu/sudut pandangmu”, bukan beban dan tugas-tugas kuliahmu……. Karena sebagai mahasiswa harus mengerjakan tugas-tugas sebagai mahasiswa, tugas-tugas kampus, kantor. Dan sebagai dosen  dan tendik harus mengerjakan tugasnya yang patut sebagai dosen dan tendik….

Mahasiswa normal tidak ada tamat jadi sarjana tanpa menjalani standar sebagai mahasiswa, dan menjadi dosen tanpa RPS, pembelajaran atau melakukan Tridarma.

Dalam ketekunan dan berpengharapan kepada Tuhan, percaya dan mengandalkan Tuhan dalam setiap belajar kita, pekerjaan kita, tugas-tugas kita,  kita akan diberikan kemampuan, sehingga kita berlari dan tidak menjadi lesu, kita berjalan dan tidak menjadi lelah. Dengan kata lain, ketekunan dan kesetiaan melakukan tugas-tugas secara aktif,  serta bertekun dan setia dalam pengharapan atas pertolongan Tuhan, itulah yang menjadi pegangan hidup kita sebagai anak-anak Tuhan.

Di dalam Dia, dan bersama Dia kita kuat, kita dimampukan.

Amin.

oleh “Bvr. Dr. Roslinda Sihombing, S.Pd., M.Si.”

  • Share:
author avatar
stbibelvrouw

Previous post

Renungan Pagi (Senin, 16 Februari 2026)
February 23, 2026

Next post

KERANGKA ACUAN PENULISAN BUKU BUNGA RAMPAI “Jejak Perempuan Misi”
February 23, 2026

You may also like

pak toar
Renungan Pagi (Senin, 16 Februari 2026)
16 February, 2026
doaaaaaaaa
Renungan Pagi, Senin, 09 Februari 2026
9 February, 2026
holly
Renungan Pagi Senin, 02 Februari 2026
2 February, 2026

Leave A Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us

SEKOLAH TINGGI BIBELVROUW HKBP

Jln. Partahan Bosi Hutapea No. 1 Laguboti 22381
Toba Samosir-Sumatera Utara-Indonesia
Email:stb.hkbp
Telp.0632-331502

Official Site by Webmaster @ Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP.