Renungan Pagi Senin, 02 Februari 2026
2 Tawarikh 1:12
“Maka kebijaksanaan dan pengertian itu diberikan kepadamu: Selain itu Aku berikan kepadamu kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sebagaimana belum pernah ada pada raja-raja sebelum engkau dan tidak akan ada pada raja-raja sesudah engkau”
Topik: “Menerima Hikmat, menerima berkat”
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Setiap orang memiliki kebutuhan dan keinginan. Dan terkadang keinginan lebih mendominasi dari kebutuhan. Bahkan (mungkin) ada saja orang dalam memenuhi keinginannya dan kebutuhannya dengan menghalalkan segala cara. Dalam perjalanan kehidupan kita, mungkin kita perlu memberi waktu bagi diri kita untuk merenung “apakah ini kebutuhanku atau keinginanku??”.
Sungguh menjadi pelajaran berharga bagi kita, dimana Tuhan memberi kesempatan kepada Raja Salomo untuk meminta apa saja. Walau ada kesempatan untuk meminta apa saja, tetapi Raja Salomo tidak memilih meminta kekayaan atau kekuasaan, tetapi hikmat dan pengertian. Jawaban dan pilihan inilah menunjukkan hati yang takut akan Tuhan.
- Hikmat lebih penting dari pada berkat materi.
Salomo meminta hikmat dari Tuhan. Itu pertanda Ia mengakui keterbatasannya dan berserah kepada Tuhan. Itu pertanda kerendahan hati. Salomo tidak merasa mampu sendiri. Sikap ini sangat penting bagi kita (baik sebagai Mahasiswa, Dosen, Tendik) untuk berkata: Tuhan, ajari kami berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai kehendak-Mu.
Salomo juga menyadari bahwa tanpa hikmat, maka kekuasaan dan kekayaan justru dapat menghancurkan. Hikmat dari Tuhan memampukan seseorang untuk mengambil keputusan yang benar, dengan hikmat seseorang bisa memimpin dan melayani dengan adil, dan dengan hikmat seseorang hidup sesuai khendak Tuhan. Amsal 9:10 berbunyi “Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat”.
- Tuhan memberi lebih dari yang diminta.
Karena Salomo meminta yang benar, maka Tuhan memberikan lebih dari yang ia minta. Ini mengajarkan: bahwa ketika Tuhan yang menjadi Prioritas, maka kebutuhan lainnya akan Ia tambahkan. Firman Tuhan: “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33).
Kita baru mengawali perkuliahan di kampus STB HKBP. Tentu kita dipenuhi harapan: nilai yang baik, prestasi meningkat, kelulusan, dan masa depan yang cerah. Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa yang paling penting bukan hanya kecerdasan, tetapi hikmat dari Tuhan. Salomo memulai kepemimpinannya dengan satu permohonan: hikmat dan pengertian. Inilah fondasi yang tepat juga untuk mengawali tahun pendidikan. Karena apa? Karena Pendidikan Tanpa Hikmat Akan Kehilangan Arah. Salomo sadar bahwa ilmu dan kuasa tanpa hikmat akan membawa kesombongan dan kekacauan. Hikmat menuntun seseorang: Menggunakan pengetahuan dengan benar, Mengambil keputusan yang bermoral, Menghormati Tuhan dan sesama. Sejatinya, Belajar bukan hanya untuk pintar, tetapi untuk menjadi manusia yang benar dan bertanggung jawab.
- Hikmat Membentuk Karakter, bukan Hanya Prestasi.
Tuhan memberi Salomo bukan hanya hikmat, tetapi juga berkat lain. Ini menunjukkan bahwa karakter yang benar akan menghasilkan keberhasilan yang sejati. Dalam dunia pendidikan saat ini: Nilai bisa dimanipulasi, Gelar bisa dikejar, Prestasi bisa dikultuskan, Namun Tuhan menghendaki integritas, kejujuran, disiplin, dan kasih.
Tahun ini mari kita berkomitmen: Belajar dengan jujur, Mengajar dengan kasih, Mendidik dengan teladan.
Saudara-saudari.. marilah kita meneladani Salomo: mendahulukan hikmat Tuhan, bukan sekadar kepintaran manusia.
Jika hikmat menjadi dasar, maka Tuhan sendiri yang akan menyertai setiap langkah belajar dan mengajar kita dan menyertai kehidupan kita. Amin
“Pdt Dr Halomoan Marpaung, M.Psi”

