Renungan Pagi (Senin, 09 Maret 2026)
PERTOBATAN SEJATI
Yoel 2:12 Tuhan memanggil umat-Nya untuk kembali kepada-Nya: “Tetapi, sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, menangis dan meratap.” (TB2)
Sahabat Kristus,
Nabi Yoel menyampaikan pesan Tuhan kepada bangsa Israel yang sedang mengalami bencana belalang dan kekeringan sebagai bentuk teguran Tuhan atas kehidupan rohani mereka. Namun, pesan Yoel bukan hanya hukuman, melainkan undangan kasih Tuhan untuk bertobat. Ini menunjukkan bahwa Tuhan lebih rindu pemulihan daripada penghukuman. Panggilan pertobatan melalui Firman ini bukan hanya untuk umat Israel pada masa nabi Yoel, tetapi juga bagi setiap orang yang terpanggil melayani Tuhan.
“Berbaliklah kepada-Ku…”
Pertobatan adalah inti kehidupan rohani. Bahkan seorang mahasiswa ataupun dosen teologi pun tetap membutuhkan pertobatan setiap hari.
Bahaya bagi mahasiswa teologi:
- Sibuk belajar teologi tetapi kehilangan kehidupan doa
- Mengenal firman tetapi tidak hidup dalam firman
- Mempersiapkan khotbah tetapi tidak mempersiapkan hati
Pelayanan yang sejati lahir dari hubungan yang benar dengan Tuhan.
Sahabat Kristus,
Firman Tuhan ini menuntun kita untuk melakukan Pertobatan Sejati yang disertai Kerendahan Hati di Hadapan Tuhan, “…dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh/meratap.” Ini menggambarkan kesungguhan pertobatan. Berarti ada penyesalan yang mendalam; ada kerinduan untuk berubah; ada kesediaan merendahkan diri di hadapan Tuhan.
Seorang calon hamba Tuhan atau pelayan tahbisan harus memiliki hati yang lembut di hadapan Tuhan.
Khusus untuk mahasiswa teologi misi di STB HKBP dipersiapkan menjadi pelayan gereja di masa depan. Tetapi gereja tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berkhotbah, melainkan orang yang hidup dekat dengan Tuhan dan lingkungan kita membutuhkan pelayan Tuhan yang: hidup kudus, memiliki hati yang bertobat, melayani dengan ketulusan.
Pelayanan yang bermanfaat baik lahir dari kehidupan rohani yang dipulihkan setiap hari.
Sebagai penutup, saya menghantar kita melanjutkan aktivitas sehari-hari dengan tiga pertanyaan patut kita renungkan:
- Apakah saya masih memiliki hubungan pribadi yang hidup dengan Tuhan melalui doa dan firman?
- Apakah saya belajar teologi untuk mengenal Tuhan lebih dalam, atau hanya untuk memperoleh pengetahuan?
- Jika Tuhan memanggil saya hari ini untuk sungguh-sungguh bertobat, apa yang harus di ubah dalam hidup saya?
Amin.
Oleh “Bvr. Theresnaria Yuliatur Situmorang, S.Psi., M.Psi”

