• Tentang STB
    • Akademik
    • Visi dan Misi
    • Contact Us
  • Prodi S1
  • Unit
    • Struktur Tata Pamong STB HKBP
    • Ketua STB-HKBP
    • Wakil Ketua I
    • Wakil Ketua II
    • Wakil Ketua III
    • Kemitraan
    • Unit Penjaminan Mutu
    • UPPM
    • Laboratorium
    • Perpustakaan
  • Kepegawaian
    • Dosen
    • Tendik
  • Download
    • Formulir Penelitian
    • Formulir PKM
    • Formulir Pendaftaran SPMB TA 2025/2026
SEKOLAH TINGGI BIBELVROUW HKBP
  • Tentang STB
    • Akademik
    • Visi dan Misi
    • Contact Us
  • Prodi S1
  • Unit
    • Struktur Tata Pamong STB HKBP
    • Ketua STB-HKBP
    • Wakil Ketua I
    • Wakil Ketua II
    • Wakil Ketua III
    • Kemitraan
    • Unit Penjaminan Mutu
    • UPPM
    • Laboratorium
    • Perpustakaan
  • Kepegawaian
    • Dosen
    • Tendik
  • Download
    • Formulir Penelitian
    • Formulir PKM
    • Formulir Pendaftaran SPMB TA 2025/2026

Renungan

  • Home
  • Renungan
  • Renungan Pagi (Senin, 20 April 2026)

Renungan Pagi (Senin, 20 April 2026)

  • Date April 20, 2026

“Biarlah bergembira dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu tetap berkata “Tuhan itu Besar!”. (Mazmur 40:17)

Saudara-saudari yang terkasih di dalam nama Tuhan Yesus Kristus!

Kehidupan manusia digambarkan seperti sebuah koin yang memiliki 2 sisi yang berbeda. Di mana suka selalu berdampingan dengan duka, pencapaian diperhadapkan dengan pengorbanan, dan masih ada beberapa hal lainnya. Akan ada dua hal yang saling bertolak belakang dalam hidup kita, tidak perduli kita mau atau tidak, kita siap atau tidak, tapi semua itu pasti terjadi.

Di tengah kondisi itu, tentu sebagai orang Kristen, kita diperhadapkan dengan pertanyaan, bagaimana kita merespon setiap kondisi yang kita alami?, yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan dan kita inginkan.

Melalui Firman Tuhan yang menyapa kita pada saat ini, kita diajak untuk merenungkan beberapa hal:

  1. Sukacita yang berakar pada Tuhan, bukan keadaan

“Biarlah bergembira dan bersukacita karena Engkau…”

Dalam Kitab Mazmur, khususnya Mazmur 40 dan Mazmur 70, kita melihat gambaran yang indah tentang ucapan syukur sekaligus seruan minta tolong. Pemazmur berseru kepada Tuhan di tengah kesesakan, namun ia juga memuliakan kebesaran-Nya.

Sering kali kita merasakan sukacita ketika hidup sedang baik dan aman, finansial aman, keluarga harmonis, rencana berjalan lancar, studi lancar, nilai juga bagus. Tapi ayat ini justru membalik cara pandang kita. Sukacita sejati bukan berasal dari keadaan, melainkan dari Tuhan sendiri. Orang yang mengenal Tuhan bisa tetap bersukacita bahkan saat hidup tidak ideal, ketika hidup sedang tidak baik-baik saja, ketika rencana kita tidak berjalan seperti yang kita mau karena menyadari bahwa sesungguhnya hidup kita tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita. Ada Tuhan yang turut bekerja dalam hidup kita. Saya pernah membaca sebuah tulisan yang juga menyadarkanku akan banyak hal waktu itu, dikatakan: “hidup kadang terang, kadang gelap. Hari-hari buruk datang bukan untuk menghancurkanmu, tetapi untuk mengajarkanmu siapa Tuhan di tengah Badai, jangan mempertanyakan siapa Tuhan hanya karena keadaanmu tidak sesuai harapanmu”. Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan, bukan karena kita merasa aman dan nyaman tapi karena kita percaya, bahwa tangan Tuhan lebih besar dari semua itu. Sukacita seperti ini bukan emosi sesaat, ini adalah keputusan hati. Keputusan untuk berkata: “Tuhan, Engkau baik.” Iman kita yang membuat kita mampu untuk mengatakannya walaupun kondisinya sedang tidak baik-baik saja.

  1. Hidup sebagai pencari Tuhan, bukan hanya pencari solusi

“…semua orang yang mencari Engkau…”

Mungkin kita sering melakukan sesuatu hal yang sama, di mana kita akan mencari Tuhan ketika kita sedang dalam situasi sulit, ketika hati kita sedang galau, ketika hidup kita sedang tidak baik-baik saja. Kita sering datang kepada Tuhan saat kita butuh sesuatu: pertolongan, jawaban, jalan keluar. Pertanyaannya, apakah itu salah? Tentunya itu tidak salah. Tapi ayat ini mengajak kita naik ke level yang lebih tinggi, di mana kita bukan hanya mencari tangan Tuhan, tetapi mencari hati-Nya.

Mencari Tuhan berarti:

  • melibatkan Dia dalam setiap aspek hidup
  • rindu mengenal karakter-Nya
  • menikmati hadirat-Nya, bukan hanya berkat-Nya

Orang yang terus mencari Tuhan akan menemukan bahwa yang paling berharga bukanlah jawaban doa, tetapi hubungan dengan Tuhan itu sendiri. Jika doa-doa yang kita sampaikan rasanya tak memiliki jawaban sekalipun, tetaplah mengingat Tuhan punya cara dan waktu-Nya sendiri.

Dan menariknya, semakin kita mencari Dia, semakin kita diubahkan dalam berbagai hal, termasuk cara berpikir kita, cara kita melihat masalah, bahkan cara kita memandang diri sendiri.

  1. Menghargai keselamatan sebagai anugerah yang hidup

“…yang mencintai keselamatan dari pada-Mu…”

Keselamatan sering kali terdengar seperti konsep rohani yang jauh. Padahal ini adalah inti dari kasih Tuhan kepada kita bahwa kita diselamatkan, dipulihkan, dan diterima. Penggenapan rencana itu mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus. Dalam Surat kepada Orang Ibrani 10:1–10 ditegaskan bahwa Kristus datang untuk melakukan kehendak Allah dengan sempurna dan membawa korban yang menghapus dosa untuk selama-lamanya. Dalam Surat Paulus kepada Jemaat di Roma 3:26 dan 6:11, dijelaskan bahwa melalui Kristus orang percaya dibenarkan, diperbarui, mati terhadap dosa, dan hidup dalam Dia.

“Mencintai keselamatan” berarti:

  • menyadari betapa besar kasih Tuhan
  • tidak hidup sembarangan karena tahu kita berharga di mata-Nya
  • menjaga hubungan dengan Tuhan dengan sungguh-sungguh

Saat seseorang benar-benar menyadari bahwa ia diselamatkan, hidupnya tidak lagi sama. Ia tidak hidup untuk dirinya sendiri lagi, tetapi dengan rasa syukur yang mendalam. Kasih karunia bukan alasan untuk santai dalam iman, tetapi justru alasan untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan.

  1. Pengakuan iman di tengah situasi apa pun

“…tetap berkata: Tuhan itu besar!”

Kata “tetap” di sini sangat kuat. Artinya ada konsistensi dan ada keteguhan.

Mengatakan “Tuhan itu besar” saat hidup berjalan sesuai dengan yang kita mau, sesuai dengan standart manusia, hal ini tentu sangat mudah kita katakan. Tapi ayat ini mengajak kita untuk tetap mengatakannya bahkan ketika:

  • doa belum dijawab
  • keadaan belum berubah
  • hati sedang lelah
  • rencana dan harapan kita tidak berjalan dengan semestinya

Ini bukan penyangkalan realita, melainkan pernyataan iman. Yang mengatakan
“Masalahku mungkin besar, tapi Tuhanku jauh lebih besar.” Pengakuan seperti ini bukan hanya menguatkan diri kita, tapi juga menjadi kesaksian bagi orang lain. Ini adalah ungkapan Iman kita yang semakin bertumbuh di dalam Dia.

Harapan terdalam pemazmur adalah agar semua orang yang setia kepada Tuhan mengakui: “TUHAN itu besar!” Yang mengucapkan ini adalah orang sengsara dan miskin, yang dikejar-kejar di dunia, tetapi yang dimerdekakan oleh Allah. Ia menantikan Tuhan dan memohon agar Tuhan tidak berlambat-lambat menolongnya.

Karena pemazmur telah diselamatkan, ia memberitakan keadilan Tuhan di tengah jemaat yang besar. Allah memperhatikan kita saat kita terancam bahaya. Meskipun kita manusia berdosa, Ia mengangkat kita ke tempat yang aman dan menerima kita dalam persekutuan kasih setia-Nya. Tindakan penyelamatan Allah di masa lampau tetap berlaku bagi kita menurut rencana keselamatan-Nya.

  1. Keseimbangan hati: mencari, bersyukur, dan percaya

Bagi kita, Injil keadilan Tuhan itu bernama Yesus Kristus. Ketika kita melihat apa yang telah dilakukan-Nya, kita menjadi takjub akan besarnya kasih Allah, lalu percaya. Tuhan memberi kita nyanyian baru dalam mulut kita, pujian bagi Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Setiap kali kita beribadah, kita membesarkan nama Tuhan. Namun pujian itu tidak berhenti di gereja. Kita diajak untuk menyerahkan diri kepada Allah dan melakukan kehendak-Nya (Roma 12:1–2) serta memberitakan Injil dalam kehidupan sehari-hari, supaya orang lain juga percaya.

Firman Tuhan pada kita hari ini sebenarnya menunjukkan keseimbangan hidup rohani:

  • kita membangun relasi dengan Dia dengan mencari-Nya
  • kita mengambil sikap hati untuk selalu bersukacita dalam Dia
  • kita mengalami kesadaran iman dengan menghargai karya keselamatan-Nya.
  • kita mengakui kebesaran-Nya dengan mengatakan Tuhan itu besar!

Ini bukan perjalanan instan, tapi proses yang panjang bahkan seumur hidup. Perjalanan Iman bukan sesuatu hal yang mudah, kadang prosesnya sangat sakit, ada air mata, ada kegelisahan, ada rasa kecewa, ada kesulitan dalam berbagai hal, lalu kita sebagai orang percaya memilih mencari Tuhan dan mengosongkan diri, meminta Tuhan mengisi kekosongan itu, lalu kita menyadari proses yang panjang membentuk diri kita yang lebih baik dan lebih kuat di dalam Dia. Dia pasti  memberikan jawaban untuk doa-doa kita walaupun kadang-kadang lain jawaban atas doa yang kita minta, dan dari jawaban itu iman kita berkata Tuhan itu besar!.

Mungkin saat ini kita sedang mengalami proses kita masing-masing, kita memiliki persoalan dan pergumulan yang berbeda-beda, tapi mari untuk percaya dan mengatakan bahwa Tuhan pasti akan menolong kita dengan cara-Nya yang luar biasa dan ingat bahwa tidak semua hal dalam hidup kita yang bisa kita kendalikan. Dan di situlah kita menemukan sesuatu yang dunia tidak bisa berikan: damai yang tenang, sukacita yang dalam, dan iman yang tetap berdiri apa pun yang terjadi. Amin.

Oleh : Novita Situmorang, S.Ag 

  • Share:
author avatar
stbibelvrouw

Previous post

STB HKBP Laksanakan Penjemaatan di HKBP Dame Janji Angkola
April 20, 2026

Next post

Bedah Buku ““Diutus Melintasi Batas: Biografi dari Marie Claire Barth Frommel” oleh GMKI Cabang Toba dan Senat Mahasiswa STB HKBP
April 20, 2026

You may also like

ibu yo
Renungan Pagi (Senin, 13 April 2026)
13 April, 2026
zakaria
Renungan Pagi (Senin, 30 Maret 2026)
30 March, 2026
berdoa
Renungan Pagi (Senin, 23 Maret 2026)
23 March, 2026

Leave A Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us

SEKOLAH TINGGI BIBELVROUW HKBP

Jln. Partahan Bosi Hutapea No. 1 Laguboti 22381
Toba Samosir-Sumatera Utara-Indonesia
Email:stb.hkbp
Telp.0632-331502

Official Site by Webmaster @ Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP.