Renungan Pagi (Senin, 04 Mei 2026)
2 Timoteus 2:3
“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus”
“Gabe dongan manaon haporsuhon ma ho songon parangan na denggan di Kristus Jesus”.
Saudara, kalau ditanyakan kepada kita, apakah seorang hamba Tuhan itu harus menderita? Atau apakah seorang Kristen itu harus menderita?
Kalau kita memperhatikan sekarang ini melalui media sosial ada banyak tantangan yang dihadapi oleh orang percaya saat ini, misalnya sulitnya mendapat ijin pendirian rumah ibadah, penyegelan tempat ibadah bahkan untuk berjualan daging b2 pun susah. Lalu bagaimana kita sebagai orang Kristen memaknai itu? Apakah kita membiarkannya? Memang dalam ajaran Yesus kita diajarkan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi membalas kejahatan dengan kebaikan. Tuhan yang akan menjadi hakim atas kita.
Firman Tuhan pada saat ini kepada kita adalah merupakan nasehat Paulus kepada Timoteus yang muda itu. Paulus menasehatkan kepada Timoteus, supaya ikut menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus. Mengapa Paulus perlu menasehati Timoteus, sebab untuk selanjutnya Timoteuslah yang akan melanjutkan tongkat estafet pemberitaan firman Tuhan. Dari Kristus, kepada Paulus, Paulus kepada Timoteus dan Timoteus kepada jemaat. Paulus mengetahui bahwa pemberitaan firman itu tidak mudah, akan banyak tantangan yang akan di hadapi, apalagi posisi Timoteus yang masih muda dan akan bertemu dengan penatua yang sudah tua, dan juga menghadapi jemaat Efesus yang pernah menolak kewibawaan Paulus (Kis. 19).
Itu sebabnya Paulus menasehatinya, mendukungnya dalam pelayanan, dan ini bukan hanya sekedar nasehat untuk tabah melayani tetapi supaya tetap mengandalkan kekuatan Tuhan.
Kemudian kita lihat dalam nas ini: Ikutlah menderita, apa maksudnya menderita di sini?
Saudara menderita yang dimaksud di dalam nas ini adalah sama artinya: ikutlah menanggung kesulitan, itu artinya menderita kejahatan, seperti penganiayaan, kehilangan nama, harta, penyiksaan, penjara, bahkan kematian karena Kristus.
Kata berikutnya adalah: ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik. Kita garisbawahi kata “prajurit”, yang baik. Artinya ini adalah bagaimana seharusnya seorang pelayan itu bersikap. Gambaran yang dibuat Paulus di sini adalah seorang prajurit. Seorang prajurit tidak berfokus kepada dirinya sendiri, tidak memusatkan perhatiannya kepada dirinya sendiri. Ia disiplin dan kepatuhannya kepada atasannya tidak bisa diragukan. Seorang prajurit yang menyerah sebelum berperang tidak akan menang.
Saudara melalui firman Tuhan hari ini, kita dapat merenungkan:
- Ini adalah nasihat Paulus kepada Timoteus, kepada kita saat ini. Ikutlah menderita karena Kristus. Penderitaan di dalam pelayanan tidak dapat dihindari, itu bisa terjadi. Sama seperti yang dialami oleh Paulus, namun melalui firman Tuhan ini kita dinasihati untuk tetap kuat menghadapi penderitaan. Sama seperti seorang prajurit yang baik, yang tidak berfokus kepada dirinya tetapi berfokus kepada pemberitaan Injil. Fokus pemberitaan kita adalah Kristus. Sehingga kalau kita fokus terhadap pemberitaan Injil, maka meski dalam keadaan yang sulit pun kita mampu mengatasi dan bertahan untuk tetap setia.
Jangan pernah menyerah, sama seperti seorang prajurit, tetaplah memberitakan firman Tuhan. Dan tetap taat dan tunduk kepada Kristus yang mengutus kita.
Penderitaan akan selalu ada, tapi kita harus tetap kuat. Pernah dengar perkataan ini: “Jangan doakan supaya laut tidak bergelombang, tetapi berdoalah supaya kamu bisa melewati gelombang itu”. Jangan berdoa supaya tidak ada kesusahan, penderitaan, pergumulan dalam hidupmu tetapi berdoalah supaya kamu mampu melaluinya.
- Ketika saya mempersiapkan khotbah ini saya teringat akan mahasiswa yang sebentar lagi akan praktek di lapangan. Saya membayangkan bagaimana kalian yang masih muda ini akan berhadapan dengan anak-anak, remaja, pemuda, orangtua, lansia, penatua. Akan ada tantangan di sana, dengan berbagai karakter. Tetapi ingatlah akan firman Tuhan ini yang menguatkan saudara, yang menguatkan setiap kita yang ada di sini untuk tetap kuat dan tetap memberitakan Kristus itu di dalam kehidupan kita. Tuhan itu memberikan kekuatan kepada kita dalam menghadapi tantangan dan penderitaan. Kata : “Aku menyertai engkau sampai akhir zaman” (Mat. 28:20) menjadi kekuatan setiap orang percaya sepanjang masa dalam memberitakan Kristus. Ingatlah kalau Tuhan mengutus kita maka Dia juga akan menyertai kita.
- Saya menutup khotbah ini dengan satu cerita, yang terjadi di India. Tahukan saudara kisah dibalik lagu: “Mengikut Yesus keputusanku”? itu terjadi sekitar tahun 1800 di Assam nama tempat itu. Misionaris dari Inggris tiba di sana dan mencoba memberitakan Injil kepada beberapa suku primitif. Dari suku ini ada satu keluarga yang terdiri dari suami, istri, dan dua orang anak memutuskan untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Keluarga itu adalah keluarga Nokseng. Dan hal ini juga berdampak kepada keluarga yang lain mereka menerima Kristus. Medengar ini kepala suku menjadi marah dan memerintahkan semua warga untuk berkumpul. Lalu kemudian ia memanggil keluarga yang pertama, yaitu Nokseng dari suku Garo. Keluarga ini diadili. Mereka disuruh untuk meninggalkan imannya, tapi dia tidak menyerah: lalu kemudian ia menyebutkan lagu yang diciptakannya ketika ia pertama kali mengenal Kristus:
“I have decided to follow Jesus, no turning back” Mengikut Yesus Keputusanku (3x), ku tak ingkar ku tak ingkar.
Kedua anaknya dibunuh : ayat 2. Walau sendiri ku ikut Yesus (3x), ku tak ingkar, ku tak ingkar.
Istrinya dibunuh lalu dia mengatakan: Dunia di belakang salib di depan (3x), ku tak ingkar, ku tak ingkar.
Akhirnya melihat peristiwa itu, kepala suku nya bertobat dan banyak orang bertobat saat itu.
Saudara ingatlah firman Tuhan yang menguatkan ini: “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus”. Amin
Pdt. Reni Tiar Linda Purba, M.Th.

