Renungan Pagi (Senin, 28 September 2026)
KEMERDEKAAN KRISTEN ADALAH MELAYANI DENGAN KASIH KRISTUS
Nas Khotbah: Galatia 5:13
“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka.Namun, janganlah mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain dengan kasih.”
Bacaan: pagi, Yesaya 5:25–30; malam, Markus 15:33–41
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus. Surat Galatia ditulis Paulus kepada jemaat dalam situasi ketika mereka sedang menghadapi persoalan serius mengenai arti keselamatan dan kemerdekaan di dalam Kristus. Paulus sebelumnya telah memberitakan Injil bahwa manusia dibenarkan karena iman kepada Kristus, bukan karena melakukan hukum Taurat. Namun, setelah Paulus memberitakan Injil, muncul pengajaran lain yang memengaruhi jemaat Galatia.
Sebagian orang mengajarkan bahwa untuk benar-benar menjadi umat Allah, orang percaya perlu mengikuti ketentuan-ketentuan hukum Taurat, termasuk persoalan sunat. Karena itu, Paulus dengan tegas mempertahankan bahwa keselamatan dan pembenaran manusia berakar pada iman kepada Kristus, bukan pada usaha manusia untuk memperoleh keselamatan melalui pelaksanaan hukum Taurat atau perbuatan baik.
Persoalannya kemudian menjadi sangat penting dalam kehidupan jemaat: Jika orang percaya tidak lagi berada di bawah hukum Taurat sebagai jalan memperoleh pembenaran, apakah berarti orang Kristen bebas melakukan apa saja?
Untuk menjawab persoalan tersebut, melalui Galatia 5:13 Paulus berkata: “Kamu telah dipanggil untuk merdeka.” Kata dipanggil menunjukkan bahwa kemerdekaan Kristen bukan sekadar hak, melainkan tanggung jawab. Kita dimerdekakan oleh Kristus bukan untuk hidup berpusat pada diri sendiri, tetapi supaya kehidupan kita dipakai untuk melayani orang lain dalam kasih. Karena itu, Paulus mengingatkan agar kemerdekaan tidak menjadi kesempatan untuk hidup dalam dosa.
Pesan ini sejalan dengan bacaan pagi dalam Yesaya 5:25–30. Bangsa Israel mengalami akibat ketidaktaatan kepada Allah. Mereka telah menerima pemeliharaan Tuhan, tetapi menjauh dari kehendak-Nya. Kemerdekaan sebagai umat pilihan, mereka gunakan menjadi kebebasan hidup tanpa mengingat Allah, sehingga kebebasan itu berubah menjadi jalan menuju kehancuran. Karena itu, kita perlu menggunakan kebebasan secara dewasa dan bertanggung jawab. Kemampuan berpikir, berbicara, menggunakan teknologi, membangun relasi, dan mengambil keputusan harus diarahkan oleh firman Tuhan.
Bacaan malam pada Markus 15:33–41 membawa kita kepada salib Kristus. Yesus menderita dan menyerahkan diri-Nya bagi manusia sesuai kehendak Allah Bapa. Salib memperlihatkan kasih Allah yang besar (Yoh.3:16). Yesus tidak menggunakan kuasa-Nya sebagai Anak Allah untuk menyelamatkan diri sendiri, tetapi memberikan diri-Nya bagi keselamatan manusia. Di sinilah teladan kemerdekaan Kristen terlihat: Kristus tidak hidup untuk diri-Nya sendiri, melainkan memberikan hidup-Nya bagi sahabat-Nya atau orang lain (Yoh.15:13-15).
Sahabat Tuhan Yesus, Yesaya mengingatkan kita akan akibat kehidupan yang menjauh dari Allah, Markus menunjukkan kasih Kristus yang rela berkorban, dan Galatia 5:13 menunjukkan jalan yang harus kita pilih: bukan kemerdekaan yang disalahgunakan untuk dosa, tetapi kemerdekaan yang dipakai untuk melayani dengan kasih Kristus Marilah kita berkata di dalam hati, “Tuhan, hidupku adalah milik-Mu. Pakailah aku untuk melayani sesamaku.”
Dalam setiap ruang belajar dan pelayanan, biarlah kemerdekaan itu tampak dalam sikap saling menghormati (saat mendengar dan bertanya), kesediaan menolong, keberanian menolak dosa, dan kesetiaan melakukan kehendak Tuhan. Dengan demikian, kemerdekaan bukan hanya kita bicarakan sebagai ajaran iman, tetapi kita hidupi sebagai kesaksian.
Sebagai sahabat Kristus, kita dipanggil untuk memahami kemerdekaan bukan sekadar kebebasan melakukan apa yang kita inginkan, tetapi sebagai panggilan untuk hidup dalam kasih dan melayani sesama dan melayani (merawat) alam di sekitar kita.
Karena itu, kemerdekaan di dalam Kristus bukanlah kemerdekaan atau kebebasan dari tanggung jawab, melainkan kemerdekaan untuk mengasihi dan melayani. Paulus berkata, “Melayani seorang akan yang lain dengan kasih.” Bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP yang sedang dipersiapkan menjadi pelayan Tuhan dan umat, pelayanan dimulai dari hal-hal sederhana: mendengarkan orang yang mengalami masalah, tidak merendahkan kelemahan sesama,tidak membuat orang lain menjadi lelucon yang merendahkan, menolak perundungan, tidak menyebarkan berita yang belum sesuai fakta (benar), serta menggunakan media sosial untuk membangun, bukan menyakiti.
Sebagai mahasiswa, gunakanlah kemerdekaan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, mencari kebenaran, mengembangkan talenta, menggunakan teknologi secara bijaksana, dan mempersiapkan diri menjadi pelayan Tuhan yang matang dalam iman, karakter, pengetahuan, dan kasih. Menjadi seorang Bibelvrouw (pemberita Injil), kita dipanggil bukan hanya untuk berbicara tentang kasih, tetapi menjadi teladan kasih melalui kehidupan sehari-hari.
Kiranya kehidupan kita sebagai keluarga besar Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP menjadi kesaksian bahwa kemerdekaan Kristen adalah melayani dengan kasih Kristus.. Mari kita menyebarkan naskah khotbah hari ini sebagai oleh-oleh kepada orang-orang yang kita kasihi agar mereka turut mendapat berkat Firman Tuhan. Amin.

