Pdt. Dr. Fitry Hutagalung Jadi Pembicara dalam Pembinaan Kompetensi Calon Pelayan (Calon Guru Huria, Calon Bibelvrouw, dan Calon Diakones) HKBP
Sipoholon, 9 September 2026 — Wakil Ketua I Sekolah Tinggi Bibelvrouw (STB) HKBP, Pdt. Dr. Fitry Hutagalung, menjadi pembicara dalam kegiatan Pembinaan Kompetensi Calon Pelayan HKBP yang terdiri atas Calon Guru Huria, Calon Bibelvrouw, dan Calon Diakones yang dilaksanakan di Seminarium Sipoholon, Rabu, 9 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Pdt. Dr. Fitry Hutagalung menyampaikan materi dengan tema “Kontekstualisasi Liturgi dan Liturgi Ekologis.” Materi pembinaan membahas hubungan antara liturgi, konteks kehidupan jemaat, kebudayaan, identitas gereja, serta tanggung jawab ekologis dalam kehidupan bergereja.
Pembahasan diawali dengan pemahaman dasar teologis kontekstualisasi liturgi. Pokok bahasan meliputi pengertian kontekstualisasi liturgi, prinsip-prinsip kontekstualisasi, tujuan, dasar teologis, serta perkembangan pendekatan kontekstual dalam liturgi. Peserta memperoleh pembahasan mengenai pentingnya memahami konteks dalam pelaksanaan liturgi dengan tetap memperhatikan landasan teologis gereja.
Materi berikutnya membahas penghayatan liturgi, kebudayaan, dan identitas gereja. Pada bagian ini, pembahasan diarahkan pada relasi antara ibadah dengan konteks budaya yang hidup di tengah jemaat. Peserta juga mempelajari unsur pokok dalam liturgi, unsur-unsur tetap, serta unsur yang dapat dikontekstualisasikan sesuai dengan kebutuhan dan konteks kehidupan jemaat.
Proses pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga melalui dialog dan analisis tata ibadah. Peserta diajak untuk mengidentifikasi berbagai unsur dalam tata ibadah serta melihat kemungkinan penerapan kontekstualisasi dengan mempertimbangkan identitas dan tradisi gereja.
Selanjutnya, pembinaan membahas batas dan tantangan kontekstualisasi liturgi. Pokok bahasan mencakup integritas teologis, risiko sinkretisme, penggunaan simbol-simbol budaya dalam liturgi, serta hubungan antara liturgi dengan teologi penciptaan dan tanggung jawab ekologis. Materi tersebut dilengkapi dengan metode studi kasus dan evaluasi liturgi, sehingga peserta dapat melakukan analisis terhadap praktik liturgi berdasarkan aspek teologis dan konteksnya.
Pembahasan mengenai liturgi ekologis juga menjadi bagian dari materi yang disampaikan. Liturgi ditempatkan dalam kaitannya dengan teologi penciptaan dan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Kesadaran ekologis kemudian dihubungkan dengan perencanaan dan pelaksanaan ibadah dalam konteks kehidupan gereja dan jemaat.
Pada sesi terakhir, peserta mengikuti praktik dan refleksi perancangan liturgi kontekstual ekologis. Dalam kegiatan ini, peserta menyusun rancangan tata ibadah dengan mempertimbangkan sejumlah aspek, antara lain konteks jemaat, Tahun Liturgi, kebudayaan, teologi HKBP, serta kesadaran ekologis. Tahapan praktik tersebut mencakup proses penyusunan, pembahasan, dan refleksi terhadap rancangan liturgi yang dibuat.
Rangkaian pembinaan tersebut memadukan beberapa metode pembelajaran, mulai dari pemaparan materi, dialog, analisis tata ibadah, studi kasus, evaluasi liturgi, hingga praktik penyusunan tata ibadah. Materi dan metode pembelajaran diarahkan pada penguatan pemahaman calon pelayan mengenai kontekstualisasi liturgi serta penerapannya dalam kehidupan pelayanan gerejawi.
Kegiatan Pembinaan Kompetensi Calon Pelayan HKBP di Seminarium Sipoholon menjadi bagian dari proses pembekalan bagi Calon Guru Huria, Calon Bibelvrouw, dan Calon Diakones dalam mempersiapkan pelaksanaan tugas pelayanan di tengah jemaat. Materi mengenai kontekstualisasi liturgi dan liturgi ekologis memberikan ruang pembelajaran yang mencakup aspek teologis, liturgis, budaya, dan ekologis dalam kehidupan bergereja.
Salam Kasih STB HKBP
Giat Selalu dalam Pekerjaan
(LP/STB HKBP)

