• Tentang STB
    • Akademik
    • Visi dan Misi
    • Contact Us
  • Prodi S1
  • Unit
    • Struktur Tata Pamong STB HKBP
    • Ketua STB-HKBP
    • Wakil Ketua I
    • Wakil Ketua II
    • Wakil Ketua III
    • Kemitraan
    • Unit Penjaminan Mutu
    • UPPM
    • Laboratorium
    • Perpustakaan
  • Kepegawaian
    • Dosen
    • Tendik
  • Download
    • Formulir Penelitian
    • Formulir PKM
    • Formulir Pendaftaran SPMB TA 2025/2026
SEKOLAH TINGGI BIBELVROUW HKBP
  • Tentang STB
    • Akademik
    • Visi dan Misi
    • Contact Us
  • Prodi S1
  • Unit
    • Struktur Tata Pamong STB HKBP
    • Ketua STB-HKBP
    • Wakil Ketua I
    • Wakil Ketua II
    • Wakil Ketua III
    • Kemitraan
    • Unit Penjaminan Mutu
    • UPPM
    • Laboratorium
    • Perpustakaan
  • Kepegawaian
    • Dosen
    • Tendik
  • Download
    • Formulir Penelitian
    • Formulir PKM
    • Formulir Pendaftaran SPMB TA 2025/2026

Renungan

  • Home
  • Renungan
  • Renungan Pagi, Senin, 09 Februari 2026

Renungan Pagi, Senin, 09 Februari 2026

  • Date February 9, 2026

Ayat bacaan: Mazmur 92:1-5

Ester 4:14

“Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu,mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu”.

 

“Allah Membela UmatNya”

Saudara-saudara yang  dikasihi Tuhan, supaya kita lebih mudah memahami teks ini, mari kita lihat ada 4 tokoh yang berperan di dalam perjalanan sejarah Yahudi dalam kitab Ester ini. Yang pertama ada Ahasweros, Haman, Ester, Mordekhai. Ahasweros adalah raja di Puri Susan dan Haman adalah orang dekatnya.. Ester adalah seorang ratu, Mordekhai adalah pamannya. Mereka sama-sama ada dilingkaran istana walaupun dalam fungsi yang bebebeda-beda.

Dalam kehidupan, masalah bisa terjadi bukan karena kita melakukan kesalahan. Bisa jadi karena kita difitnah, mungkin karena ada konspirasi atau karena tidak senang dengan kita. Orang  Yahudi mengalami hal seperti itu karena ada yang memfitnah dan dituduh melakukan kejahatan yang diprakarsai oleh Haman. Haman menghasut raja supaya membuat maklumat undang-undang untuk memusnahkan semua orang Yahudi yang ada di Susan. Dan itu dilakukan oleh Ahasweros. Mendengar berita dan keputusan itu, Mordekhai merasa terpukul; bangsanya akan dibunuh dan dimusnahkan. Dia sadar dan tahu bahwa mereka tidak mempunyai kekuatan untuk membatalkan keputusan raja. Usaha yang dia lakukan hanya menghidupkan asa yang tersisa dalam kekuatannya untuk memohon kepada Tuhan melalui puasa dan doa-doanya setiap hari di lapangan dan pinggiran istana.

Berpakaian kain kabung, duduk di atas abu adalah simbol duka yang mendalam. Mereka bersedih karena sudah ada keputusan raja untuk menghabisi/membunuh semua orang Yahudi yang ada di banteng Susan. Itu sebabnya Mordekhai datang ke pintu istana, padahal tidak boleh satu orangpun yang datang ke istana dengan memakai kain kabung. Semua orang Yahudi memakai kain kabung, meratap kepada Tuhan lewat kekhusyukan doa-doa puasanya. Mereka tidur di atas abu sebagai lapak tidurnya.

Hati Ester pilu mendengar keadaan itu, dan dia mengirim pakaian kepada Mordekhai. Ester belum tahu sesungguhnya apa yang terjadi, dia hanya melihat ketika Mordekhai datang ke istana dengan memakai kain kabung,

Ester tidak tinggal diam. Dia mencari tahu melalui Hatah, apa sebenarnya persoalan yang terjadi. Kenapa Mordekhai berkabung. Sesungguhnya dia tidak tahu karena dia ada di istana, dia tidak tahu apa persoalan di luar. Hatah sebagai perantara, Mordekhai menceritakan apa keadaan yang sesungguhnya. Pembinasaan orang Yahudi diganti dengan perak dan emas oleh haman. Ini adalah ancaman yang tidak main-main dan sungguh-sungguh terjadi. Nyawa orang Yahudi terancam. Informasi ini diceritakan Mordekhai kepada Hatah supaya disampaikan kepada Ester juga salinan Undang-Undang yang di buat di Puri Susan untuk memusnahkan mereka.

Mordekhai tidak hanya berhenti disitu saja, dia tetap mencari cara yang lain supaya orang-orang Yahudi luput dari hukuman itu. Mordekhai menyuruh Ester untuk menghadap Raja supaya diberi karunianya untuk membela bangsanya. Tentu itu hal yang tidak mudah. Bangsa Yahudi yang dibawa ke Babel oleh raja Nebukadnezar sebagian dari mereka masih ada yang tidak pulang kembali ke Yerusalem. Mereka yang tinggal disitu sudah mempunyai keturunan, hidup sebagai orang buangan dan sudah diterima sebagai rakyat disana.

Masalah besar yang dihadapi kaum Yahudi pada masa itu datang dari Haman hanya karena iri hati. Karena kedekatan kepada raja, lalu menyalahgunakan wewenang sehingga Raja memberi maklumat kepada semua kepala-kepala daerah untuk membunuh kaum Yahudi. Tentu ini hal yang sangat menyakitkan bagi Ester, tetapi menghadap rajapun tidak semudah itu bagi Ester, karena iapun harus mempertaruhkan nyawanya sendiri. Tindakan berani itu tidak mudah dan sangat berbahaya sebab jika raja tidak memanggilnya maka ester tidak bisa dating menghadapnya. Itu SOP kerajaan pada waktu itu. Walaupun Ester sebagai ratu di istana tetapi dia tidak punya hak untuk menjumpai suaminya soal urusan pekerjaan.

Menghadap raja bagi Ester sama dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri, tetapi dia juga tidak bisa berdiam diri hanya melihat kematian orang-orang yahudi (sebangsanya).

Dalam pergumulannya, ia menyampaikan itu kepada Mordekhai. Ester juga memberikan contoh kepada kita saat ini dalam hal keberanian untuk mengemban tugas yang sulit, tantangan yang sulit, persoalan yang pelik. Setiap manusia pasti ada pergumulan hidupnya walau tidak sesulit persoalan yang dihadapi Ester yang sampai pada taruhan nyawa. Jadi bukan jaminan bahwa orang yang sudah hidup nyaman/enak tidak memiliki masalah. Yang namanya masalah, kesulitan pasti ada; apakah kita kaya, terhormat, pintar, punya jabatan, rakyat biasa, dll.

Kalau kita lihat dari kisah ini, masalah datang bukan karena kesalahan Ester tetapi karena ada satu orang yang iri hati, dengki terhadap bangsanya. Lalu iri hati itu menimbulkan masalah. Persoalan ini tidak pernah mereka harapkan, tetapi Tuhan menyelamatkan mereka. Tuhan menjadi menjaga umatNya. Baik Mordekhai, Ester dan bangsa Yahudi mereka mempunyai keterbatasan menangani persoalan itu; mereka hanya bisa berpuasa, berdoa, memohon kepada raja untuk menangguhkan hukuman. Semuanya itu adalah sarana yang dipakai Tuhan untuk menyelamatkan bangsaNya. Ada masalah diluar kendali dan kemampuan kita. Ester sebagai manusia biasa tidak bisa menyelesaikan itu. Resiko ada tetapi dia memilih prioritas. Keselamatan bangsanya lebih utama dari kenyamanannya di istana maka dia mengumpulkan seluruh kekuatan yang ada pada dirinya melalui doa, berpuasa, meminta campurtangan Tuhan, dan berpikir jernih, mengajak seluruh kaum Yahudi berdoa (berpuasa) untuknya. Dalam kesunyian hatinya dia tetap focus kepada kekuatan Tuhan, tetap di jalan yang benar.

Mordekhai juga membuka mata hati Ester sebagai ratu. Kenapa Tuhan mengangkat dia sebagai ratu, boleh jadi ini jalan Tuhan untuk menyelamatkan bangsanya sendiri dan kehadirannya di istana menjadi berkat bagi orang lain, karena Tuhan sudah memberkatinya. Kenapa engaku tidak mencoba untuk menolong bangsamu. Sekalipun engkau berdiam diri saja, pertolongan  dan kelepasan tetap ada bagi orang Yahudi. Mordekhai percaya bahwa pertolongan Tuhan akan ada. Saudara yang dikasihi Tuhan;  kita mau di istana, mau di STB, mau di Sekolah lain, di rumah, mau orang kaya, pintar, di tempat kita bekerja, mau salah, mau kita diposisi yang benar yang namanya masalah tetap akan terjadi. Masalah datang tidak memandang tempat, tetapi jadikan masalah itu untuk melihat cara Tuhan menolong kita bisa bersaksi, bermisi demi kemuliaan nama Tuhan.

Beranilah bertindak benar dan tetaplah berusaha walau kemungkinan keselamatan itu hanya sedikit. Jangan abu-abu dalam pilihan. Jangan merencanakan kejahatan kepada orang lain hanya karena kedekatan personal kepada pimpinan/raja. Kita belajar dari kehidupan Mordekhai dan Ester yang benar-benar memperjuangkan bangsanya. Dalam kesunyian hatinya, mereka tetap membela bangsanya melalui ketaatan dan doa-doa puasanya kepada Tuhan. Cara Tuhan memang berbeda. Dari yang tidak mungkin menjadi nyata, Allah membela umatNya. Amin

Oleh “Bvr. Dr. Darna Situmorang, M.Pd.K.”

  • Share:
author avatar
stbibelvrouw

Previous post

Renungan Pagi Senin, 02 Februari 2026
February 9, 2026

Next post

Renungan Pagi (Senin, 16 Februari 2026)
February 16, 2026

You may also like

zakaria
Renungan Pagi (Senin, 30 Maret 2026)
30 March, 2026
berdoa
Renungan Pagi (Senin, 23 Maret 2026)
23 March, 2026
THERES
Renungan Pagi (Senin, 09 Maret 2026)
9 March, 2026

Leave A Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us

SEKOLAH TINGGI BIBELVROUW HKBP

Jln. Partahan Bosi Hutapea No. 1 Laguboti 22381
Toba Samosir-Sumatera Utara-Indonesia
Email:stb.hkbp
Telp.0632-331502

Official Site by Webmaster @ Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP.