Renungan, Senin 24 Agustus 2026
“Hidup bersyukur di tengah tuntutan”
Nas: 1 Timotius 6:6–7
“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa pun ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.”
Pendahuluan
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita hidup pada zaman yang penuh tuntutan. Tuntutan pekerjaan, keluarga, pelayanan, pendidikan, ekonomi, jabatan, target, bahkan tuntutan untuk selalu berhasil. Dalam dunia akademik, tuntutannya juga semakin besar: harus meningkatkan kompetensi, menghasilkan penelitian, melakukan pengabdian, meningkatkan mutu, memenuhi berbagai standar, dan terus mengikuti perkembangan zaman. Tuntutan itu tidak selalu salah. Yang menjadi persoalan adalah ketika tuntutan membuat kita kehilangan rasa syukur, sukacita, kedamaian, dan rasa cukup.
Mungkin kita sering berkata: “Kalau sudah mencapai itu, saya akan bersyukur.” Padahal Firman Tuhan mengajarkan: “Bersyukurlah terlebih dahulu, lalu jalani setiap tanggung jawab dengan iman.”
Bersyukur bukan berarti tidak memiliki tuntutan. Paulus berkata: “Ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” Paulus tidak mengatakan kita tidak boleh memiliki cita-cita. Kita boleh memiliki target, Kita boleh ingin maju, Kita boleh ingin memiliki kehidupan yang lebih baik. Mahasiswa boleh ingin berprestasi. Dosen boleh ingin meningkatkan kualitas. Institusi boleh ingin memperoleh akreditasi yang baik. Tetapi jangan sampai keinginan untuk menjadi lebih baik membuat kita tidak mampu menghargai apa yang sudah Tuhan berikan.
Dalam dunia akademik, kita mengenal berbagai ukuran keberhasilan: gelar, jabatan, prestasi, publikasi, penelitian, akreditasi, fasilitas, dan pengakuan. Semua itu penting. Perguruan tinggi memang dipanggil untuk berkembang dan mencapai mutu yang semakin baik. Namun Paulus mengingatkan kita bahwa keberhasilan tidak boleh hanya diukur dari apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga dari siapa diri kita di hadapan Allah.
Untuk itu Nats hari ini mengajarkan sebuah prinsip penting: Prestasi boleh tinggi, tetapi hati harus tetap memiliki rasa cukup di hadapan Tuhan dan selalu bersyukur.
- Ibadah itu kalau disertai rasa cukup
Kata “ibadah” dalam konteks ini bukan hanya kegiatan ritual keagamaan. Ibadah menunjuk kepada kehidupan yang saleh dan berkenan kepada Allah. Sedangkan rasa cukup bukan berarti tidak boleh memiliki cita-cita. Rasa cukup berarti: Mampu bersyukur atas apa yang Tuhan percayakan tanpa kehilangan semangat untuk terus bertumbuh.
Seorang dosen harus terus belajar. Mahasiswa harus terus berkembang. Perguruan tinggi harus terus meningkatkan mutu. Tetapi semuanya itu tidak boleh membuat kita hidup dalam persaingan yang tidak sehat, iri hati, kesombongan, atau ambisi tanpa batas. Kita mengejar mutu bukan supaya lebih hebat daripada orang lain, tetapi supaya lebih berguna bagi Tuhan dan sesama.
Rasa cukup bukan berarti berhenti berusaha, Rasa cukup bukan kemalasan, Rasa cukup bukan berarti: “Sudahlah, tidak perlu berkembang.”. Bukan! Rasa cukup berarti: Saya menerima dengan syukur apa yang Tuhan percayakan hari ini, sambil tetap bertanggung jawab untuk mengembangkan apa yang Tuhan berikan.
- Memberi keuntungan besar
Paulus mengatakan bahwa kesalehan yang disertai rasa cukup “memberi keuntungan besar.” Keuntungan yang dimaksud bukan terutama keuntungan materi.
Dalam kehidupan akademik, kita sering berbicara tentang output:
- berapa banyak lulusan;
- berapa banyak penelitian;
- berapa banyak publikasi;
- berapa banyak prestasi;
- bagaimana akreditasi;
- bagaimana reputasi institusi.
Semua itu penting. Tetapi ada outcome yang lebih dalam, yaitu: Apakah pendidikan kita menghasilkan manusia yang berintegritas, beriman, bertanggung jawab, dan mampu melayani masyarakat? Inilah keuntungan besar pendidikan Kristen. Perguruan tinggi teologi tidak hanya menghasilkan orang yang pintar berbicara tentang Tuhan, tetapi manusia yang mampu menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan nyata.
- Kita tidak membawa sesuatu apa pun ke dalam dunia
Ayat 7 membawa kita kepada kesadaran tentang keterbatasan manusia. Kita datang ke dunia tanpa membawa gelar, Kita tidak lahir membawa jabatan, Kita tidak membawa rekening, rumah, kendaraan, atau prestasi, Karena itu, jangan sampai apa yang kita miliki hari ini membuat kita lupa bahwa semuanya adalah titipan Tuhan.
Bagi seorang akademisi, gelar adalah titipan, Jabatan adalah titipan, Pengetahuan adalah titipan, Kampus adalah titipan, Bahkan kesempatan untuk mendidik generasi muda adalah kepercayaan Tuhan. Maka pertanyaannya bukan hanya: “Apa yang sudah saya capai?” Tetapi: “Untuk apa Tuhan memberikan kesempatan ini kepada saya? Pada akhirnya, yang berharga bukan hanya berapa banyak yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakan apa yang Tuhan percayakan.
- Pelajaran bagi dosen dan mahasiswa
Bagi dosen, Jangan menjadikan ilmu sebagai alat untuk meninggikan diri. Ilmu harus menjadi alat pelayanan, Semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya semakin besar pula tanggung jawab moral dan sosialnya. Dosen bukan hanya transfer of knowledge, tetapi juga transfer of values. Mahasiswa belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari cara kita hidup.
Bagi mahasiswa Jangan mengejar nilai hanya untuk mendapatkan angka, Kejar kompetensi dan karakter. Jangan bertanya hanya: “Berapa nilai saya?” Tetapi juga: “Apa yang berubah dalam diri saya setelah belajar?” Inilah semangat pendidikan yang sesungguhnya.
- Pelajaran bagi perguruan tinggi
Nats ini menjadi refleksi bagi lembaga pendidikan. Perguruan tinggi tentunya tidak hanya mengejar pertumbuhan institusi, tetapi juga pertumbuhan kualitas manusia. Akreditasi penting. SPMI penting. Kurikulum penting. Sarana-prasarana penting. Penelitian dan publikasi penting. Tetapi semua itu harus menjadi sarana, bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah: Menghasilkan manusia yang beriman, berilmu, berkarakter, dan mampu memberikan kontribusi bagi gereja dan masyarakat.
Penutup
Saudara-saudara, Dunia mengatakan: “Miliki lebih banyak supaya engkau bahagia.” Firman Tuhan mengatakan: “Hiduplah dalam kesalehan dan rasa cukup.” Dunia bertanya: “Berapa banyak yang sudah engkau kumpulkan?” Firman Tuhan bertanya: “Berapa banyak yang sudah engkau berikan?” Dunia mengejar prestasi. Kristus menghendaki kesetiaan.
Karena itu, marilah kita menjadi komunitas akademik yang tetap mengejar keunggulan, tetapi tidak kehilangan kerendahan hati; mengejar prestasi, tetapi tidak kehilangan integritas; mengejar kemajuan, tetapi tetap memiliki rasa cukup.
Saudara-saudari! Mungkin hari ini kita memiliki banyak tuntutan Ada tuntutan pekerjaan, Ada tuntutan keluarga, Ada tuntutan pelayanan, Ada tuntutan akademik, Ada tuntutan ekonomi. Jangan biarkan banyaknya tuntutan membuat kita lupa kepada banyaknya anugerah Tuhan.
Justru kita harus mengatakan: “Tuhan, saya akan tetap bekerja keras, tetapi saya tidak mau hidup dalam kekhawatiran. Saya akan terus berusaha, tetapi saya tidak mau kehilangan rasa cukup. Saya akan mengejar kemajuan, tetapi saya tetap mau bersyukur.” Amin.
Pdt. Dr. Halomoan Marpaung, M.Psi (Wakil Ketua II STB HKBP)

