• Tentang STB
    • Akademik
    • Visi dan Misi
    • Contact Us
  • Prodi S1
  • Unit
    • Struktur Tata Pamong STB HKBP
    • Ketua STB-HKBP
    • Wakil Ketua I
    • Wakil Ketua II
    • Wakil Ketua III
    • Kemitraan
    • Unit Penjaminan Mutu
    • UPPM
    • Laboratorium
    • Perpustakaan
  • Kepegawaian
    • Dosen
    • Tendik
  • Download
    • Formulir Penelitian
    • Formulir PKM
    • Formulir Pendaftaran SPMB TA 2025/2026
SEKOLAH TINGGI BIBELVROUW HKBP
  • Tentang STB
    • Akademik
    • Visi dan Misi
    • Contact Us
  • Prodi S1
  • Unit
    • Struktur Tata Pamong STB HKBP
    • Ketua STB-HKBP
    • Wakil Ketua I
    • Wakil Ketua II
    • Wakil Ketua III
    • Kemitraan
    • Unit Penjaminan Mutu
    • UPPM
    • Laboratorium
    • Perpustakaan
  • Kepegawaian
    • Dosen
    • Tendik
  • Download
    • Formulir Penelitian
    • Formulir PKM
    • Formulir Pendaftaran SPMB TA 2025/2026

Renungan

  • Home
  • Renungan
  • Renungan, Senin 31 Agustus 2026

Renungan, Senin 31 Agustus 2026

  • Date August 31, 2026

Khotbah, Senin, 31 Agustus 2026

Dari. Yakobus 4:7 “ Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan                            lari dari padamu!”

Tema   : “Tunduk kepada Allah dan Melawan Iblis.”

 

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan ini, setiap orang menghadapi berbagai macam pergumulan. Ada pergumulan yang datang dari keadaan di sekitar kita, ada yang berasal dari orang lain, bahkan ada juga pergumulan yang muncul dari dalam diri kita sendiri. Kadang-kadang kita merasa kuat ketika semuanya berjalan dengan baik. Tetapi ketika masalah datang, ketika doa seolah-olah belum dijawab, ketika kita mengalami kegagalan, kekecewaan, atau pencobaan, pada saat itulah iman kita benar-benar diuji.

Sering kali manusia berpikir bahwa untuk menghadapi persoalan hidup, yang dibutuhkan hanyalah kekuatan diri sendiri. Kita berkata, “Saya harus kuat. Saya harus mampu. Saya harus menyelesaikannya sendiri.” Akibatnya, kita lupa bahwa sebagai orang percaya, kehidupan kita bukan hanya berhadapan dengan persoalan manusiawi, tetapi juga berada dalam suatu peperangan rohani

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Surat Yakobus ditujukan kepada orang-orang percaya yang sedang menghadapi berbagai pergumulan dalam kehidupan iman mereka. Yakobus berbicara dengan sangat realistis mengenai kehidupan jemaat. Ia tidak menggambarkan kehidupan orang percaya seolah-olah selalu damai dan bebas dari konflik. Dalam pasal 4, Yakobus membahas mengenai perselisihan, hawa nafsu, keinginan duniawi, persahabatan dengan dunia, dan kesombongan manusia. Pada ayat-ayat sebelumnya, Yakobus menunjukkan bahwa konflik yang terjadi di antara manusia tidak hanya disebabkan oleh keadaan dari luar, tetapi juga oleh keinginan-keinginan yang berperang di dalam diri manusia.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Kata “tunduk” menunjukkan sikap menempatkan diri di bawah otoritas seseorang. Dalam konteks iman Kristen, tunduk kepada Allah berarti mengakui bahwa Allah adalah Tuhan dan manusia adalah ciptaan-Nya. Tunduk kepada Allah berarti kita mengakui bahwa hidup kita bukan milik kita sendiri. Pikiran kita, kehendak kita, rencana kita, masa depan kita, semuanya berada di bawah kedaulatan Allah.

Masalahnya, manusia sering kali ingin Allah mengikuti kehendaknya.

 

Kita berdoa:

“Tuhan, lakukan ini.”

“Tuhan, berikan itu.”

“Tuhan, buatlah semuanya sesuai dengan rencanaku.

Tetapi jarang kita berkata:

“Tuhan, jadilah kehendak-Mu dalam hidupku.”

Di sinilah letak persoalannya.

Ketundukan kepada Allah bukan berarti kita kehilangan kebebasan. Sebaliknya, ketundukan kepada Allah menunjukkan bahwa kita mempercayakan hidup kita kepada Pribadi yang benar-benar berkuasa dan mengasihi kita.

Yesus sendiri memberikan teladan ketundukan kepada kehendak Bapa. Dalam penderitaan-Nya, Ia berkata:

“Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Jadi, ketundukan kepada Allah bukan tanda kelemahan. Ketundukan adalah tanda iman.

Ketika kita tunduk kepada Allah, kita berkata:

“Tuhan, saya tidak mengerti semuanya, tetapi saya percaya kepada-Mu.”

“Tuhan, saya tidak mengetahui masa depan saya, tetapi saya percaya Engkau memegang masa depan saya.”

“Tuhan, keinginan saya mungkin berbeda dengan kehendak-Mu, tetapi saya memilih untuk mengikuti kehendak-Mu.”

Inilah dasar kehidupan orang percaya.

Melawan Iblis

Setelah mengatakan “tunduklah kepada Allah,” Yakobus melanjutkan:

“Lawanlah Iblis.”

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan ,Alkitab mengajarkan bahwa Iblis adalah musuh rohani yang berusaha menjauhkan manusia dari Allah. Karena itu, kehidupan orang percaya tidak boleh dijalani dengan sikap lengah.mIni berarti kemampuan kita untuk melawan kejahatan tidak berasal dari kekuatan diri sendiri. Kita melawan Iblis bukan karena kita lebih kuat daripada dia, tetapi karena kita berdiri di bawah otoritas Allah. Bayangkan seorang prajurit. Seorang prajurit tidak berdiri berdasarkan kekuatannya sendiri. Ia berdiri berdasarkan otoritas yang berada di belakangnya.

Demikian juga orang percaya.

Ketika kita menghadapi pencobaan, kita tidak berkata:

“Saya kuat.”

Tetapi kita berkata:

“Allah yang saya sembah adalah sumber kekuatan saya.”

Ketika godaan datang, kita tidak bermain-main dengan dosa. Kita harus berani mengatakan tidak.

Ketika kebencian datang, kita memilih kasih.

Ketika kesombongan muncul, kita memilih kerendahan hati.

Ketika keinginan untuk membalas muncul, kita memilih mengampuni.

Itulah bentuk nyata dari melawan Iblis.

Melawan Iblis bukan hanya berbicara mengenai sesuatu yang luar biasa atau spektakuler. Sering kali peperangan rohani terjadi melalui keputusan-keputusan kecil setiap hari.

Ketika kita memilih tetap jujur meskipun berbohong lebih mudah, kita sedang berdiri dalam kebenaran.

Ketika kita memilih mengampuni daripada menyimpan kebencian, kita sedang menolak pekerjaan dosa.

Ketika kita memilih berdoa daripada menyerah, kita sedang menyatakan bahwa kita tetap percaya kepada Allah.

 “Maka Ia Akan Lari dari Padamu”

Bagian terakhir dari ayat ini memberikan pengharapan:

“Maka ia akan lari dari padamu.”

Perhatikan bahwa Yakobus tidak berkata bahwa orang percaya tidak akan pernah mengalami pencobaan. Alkitab tidak menjanjikan kehidupan tanpa pencobaan. Tetapi Alkitab memberikan jaminan bahwa orang yang hidup dalam ketundukan kepada Allah tidak harus hidup dalam kekalahan.

Ada kuasa Allah yang menyertai kehidupan orang percaya.

Karena itu, jangan pernah berpikir:

“Saya terlalu lemah untuk melawan pencobaan.”

“Saya sudah terlalu jauh dari Tuhan.”

“Saya tidak mungkin berubah.”

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa jalan kemenangan dimulai dengan satu sikap:

Tunduk kepada Allah.

Bukan mengandalkan kekuatan sendiri.

Bukan mengandalkan kemampuan sendiri.

Bukan mengandalkan pengalaman sendiri.

Tetapi datang kepada Allah dan berkata:

“Tuhan, saya membutuhkan Engkau.”

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Yakobus 4:7 menjadi sangat relevan bagi kehidupan kita saat ini.

Kita hidup di tengah dunia yang sering mendorong manusia untuk mengutamakan dirinya sendiri. Dunia berkata, “Ikuti keinginanmu.” Tetapi firman Tuhan berkata, “Tunduklah kepada Allah.”

Dunia berkata, “Lakukan apa yang membuatmu senang.” Tetapi firman Tuhan bertanya, “Apakah yang engkau lakukan sesuai dengan kehendak Allah?

Dunia mengajarkan kekuatan diri. Firman Tuhan mengajarkan ketergantungan kepada Allah.

Karena itu, marilah kita memeriksa kehidupan kita.

Apakah kita sungguh-sungguh tunduk kepada Allah?

Ataukah selama ini kita hanya ingin Allah memberkati rencana kita?

Apakah kita masih membuka ruang bagi dosa dalam kehidupan kita?

Apakah kita masih bermain-main dengan hal-hal yang menjauhkan kita dari Tuhan?

Sebab itu. Hari ini firman Tuhan mengajak kita kembali.

Tunduklah kepada Allah.

Serahkan kehendak kita kepada-Nya.

Serahkan kekhawatiran kita kepada-Nya.

Serahkan masa depan kita kepada-Nya.

Dan setelah itu, berdirilah teguh melawan Iblis.

Sebab kehidupan orang percaya bukan kehidupan yang berjalan tanpa peperangan, tetapi kehidupan yang memiliki Allah sebagai sumber kemenangan.

Oleh karena itu Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Ketundukan kepada Allah adalah dasar dari perlawanan kita terhadap kejahatan. Kita tidak mungkin melawan Iblis dengan kesombongan. Kita tidak mungkin melawan dosa dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Kita membutuhkan kasih karunia dan pertolongan Allah. Sebab kemenangan bukan terletak pada kuatnya manusia, tetapi pada Allah yang menjadi tempat perlindungan manusia.

Amin.

(Jeremia Sihombing, S.Pd)

  • Share:
author avatar
stbibelvrouw

Previous post

Renungan, Senin 24 Agustus 2026
August 31, 2026

You may also like

230403152621
Renungan, Senin 24 Agustus 2026
24 August, 2026
pedang
Renungan Pagi (Senin, 11 Mei 2026)
11 May, 2026
timoteus
Renungan Pagi (Senin, 04 Mei 2026)
4 May, 2026

Leave A Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us

SEKOLAH TINGGI BIBELVROUW HKBP

Jln. Partahan Bosi Hutapea No. 1 Laguboti 22381
Toba Samosir-Sumatera Utara-Indonesia
Email:stb.hkbp
Telp.0632-331502

Official Site by Webmaster @ Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP.